Chusni Syaerodin
Pernah nggak, kalian masuk kamar pesantren terus mencium bau yang kurang enak? Atau pernah lihat teman yang bajunya kusut, barang-barangnya berantakan, bahkan belum mandi tapi sudah siap berangkat sekolah? Mungkin hal seperti itu sering kita temui dan biasanya cuma jadi bahan bercandaan. Tapi sebenarnya, dari hal-hal kecil seperti inilah kita bisa belajar tentang kebiasaan dan sikap kita sebagai santri.
Kita sebagai santri setiap hari hidup bersama orang lain. Di pesantren kita satu kamar, makan bersama, belajar bersama, dan mengikuti berbagai kegiatan bersama. Di sekolah juga kita bertemu dengan guru dan banyak teman. Jadi, menjaga kebersihan diri bukan hanya untuk membuat diri kita nyaman, tetapi juga supaya orang lain yang ada di sekitar kita merasa nyaman.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 222:
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang
menyucikan diri.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebersihan itu bukan hal yang sepele. Sebagai santri, kita seharusnya terbiasa menjaga kebersihan mulai dari diri sendiri. Mandi dengan teratur, mengganti pakaian, mencuci baju, memotong kuku, dan membersihkan kamar sebenarnya sederhana, tetapi kadang kita masih malas melakukannya.
Di pesantren, kita juga harus belajar menjaga barang-barang kita. Setelah memakai sarung jangan dilempar begitu saja. Baju kotor jangan ditumpuk berhari-hari. Buku dan perlengkapan sekolah juga jangan dibiarkan berserakan. Kalau semuanya ditaruh pada tempatnya, kita sendiri yang akan merasa lebih enak dan tidak kebingungan ketika membutuhkannya.
Kebiasaan itu juga akan terbawa ke sekolah. Sebelum berangkat sekolah, lihat dulu penampilan kita. Seragam sudah rapi atau belum? Sudah mandi atau belum? Rambut atau hijab sudah dirapikan? Sepatu dan perlengkapan sekolah sudah siap? Jangan sampai sudah terlambat masuk kelas karena pagi-pagi malah sibuk mencari buku atau seragam yang tidak tahu diletakkan di mana.
Soal wangi juga jangan dianggap sepele. Kita tidak harus memakai parfum mahal. Yang penting mandi dengan bersih, memakai pakaian yang bersih, dan menjaga agar badan tidak bau. Kalau punya parfum atau deodorant, gunakan secukupnya. Jangan karena ingin wangi malah menyemprot parfum terlalu banyak sampai teman di sebelah kita terganggu.
Rasulullah ِﷺ juga mengajarkan kita untuk memperhatikan kebersihan dan menggunakan wewangian. Dalam hadis riwayat Bukhari, Rasulullah ﷺ menyebutkan tentang mandi, bersiwak, dan menggunakan wewangian ketika hendak melaksanakan salat Jumat. Artinya, menjaga kebersihan dan penampilan memang merupakan hal yang baik untuk dibiasakan.
Yang penting juga, jangan menunggu ditegur pengurus, atau guru baru mau bersih-bersih. Kesadaran untuk menjaga kebersihan seharusnya datang dari diri sendiri. Kalau kamar kotor, jangan hanya menunggu teman yang membersihkan. Kalau melihat sampah, ya dibuang. Kalau pakaian sudah kotor, ya dicuci ini hal yang sepela tapi kalo bisa melakukanya bisa bernilai ibadah kenapa kita masih sering malas?
Kita memang masih belajar. Tidak harus langsung sempurna. Yang penting mulai membiasakan diri dari hal-hal kecil. Karena kalau sudah terbiasa bersih dan rapi di pesantren, insyaallah kebiasaan itu juga akan terbawa ketika kita berada di sekolah maupun di luar pesantren.
Jadi, menjadi santri itu bukan cuma harus pintar mengaji dan rajin sekolah. Kita juga harus bisa menjaga sikap dan kebiasaan sehari-hari.
“Bersih badannya, rapi pakaiannya, wangi orangnya, bersih pesantrennya, nyaman sekolahnya itu semua akan menjadi nilai ibadah”.





