Search
Search
Close this search box.

Belajar Mengetuk Pintu yang Berbeda

Belajar Mengetuk Pintu yang Berbeda

Oleh : Anissa Prisilla Bahari, S.Psi

 

Profesi Guru, terbesit dalam fikiran hanya memberikan suatu pengetahuan yang pernah saya pelajari. Hal sulit lain muncul saat berada dalam peran itu. Bagaimana mencari cara membuat apa yang telah di sampaikan bisa sampai kepada orang lain.

Sebagai guru muda, banyak hal yang saya pelajari. Semua bukan hanya tentang pekerjaan,tetapi juga tentang bagaimana memahami orang yang akan ditemui setiap hari. Sebagai guru yang berkecimpung dalam bidang Bimbingan Konseling, terkadang bisa berperan sebagai teman atau bahkan sebagai musuh. Hal ini memberikan  tantangan tersendiri, terlebih di lingkungan pesantren, di mana bertemu dengan banyak kepribadian yang berbeda. Ada yang mudah untuk berkomunikasi, ada yang menunjukan respon penolakan, dan ada juga yang memang sudah mau terbuka sejak awal. Keberagaman individu ini tentu membutuhkan teori pendekatan yang beragam.

Dari semua yang didapatkan, saya mulai memahami bahwa tidak semua pintu diketuk dengan cara yang sama.

Ketika sebuah pintu diketuk, ada yang hanya membutuhkan satu ketukan agar dibuka oleh pemiliknya, ada juga yang butuh dua kali ketukan, bahkan ada juga yang perlu bersabar–menunggu dibukakan dengan waktu yang lama.

Begitu juga dalam melihat sudut pandang seseorang, kita perlu mendapatkan momen. Namun, disitulah saya mulai mencari apa alasan respon yang diberikan.

Hal ini membuat saya belajar banyak hal. Cara komunikasi dan cara menerima informasi yang mulai berubah. Dunia yang di jalani hari ini tidak sepenuhnya sama dengan dunia yang kita alami ketika sesusia mereka.

Sudut pandang siswa terhadap suatu hal, sangatlah sulit dipahami. Di mana suatu kesalahan bukan ingin dihakimi, tapi ingin diperhatikan ataupun disayang. Kadang bukan pertanyaan panjang yang membuat seseorang bercerita,tetapi rasa bahwa dirinya sedang didengarkan.

Menjadi guru, bukan tentang diikuti apa yang kita inginkan.  Ada kalanya kita perlu berhenti sebentar, untuk melihat sisi yang berbeda, lalu memahami mengapa seseorang memilih jalan tertentu.

Bukan untuk dibiarkan, tetap memberikan prinsip bahwa yang salah tetap salah, yang benar tetap benar. Namun saya masih sangat berusaha belajar untuk keseimbangan ini. Tetap ingin menjadi guru tegas, namun tanpa harus memberikan jarak. Bisa dekat tanpa kehilangan batas.Mendengarkan tanpa harus selalu membenarkan.

Mungkin pendekatan yang baik bukan tentang mencari satu cara yang paling baik, tapi tentang kesediaan untuk mencoba memahami cara yang berbeda.

Menjadi guru BK, saya menyadari bahwa setiap pribadi memiliki pintunya sendiri.Mereka akan membukanya jika sudah merasa aman untuk dirinya sendiri.

Saya pun belajar memahami akan suatu yang akan terjadi saat pintu dibuka.

Seorang guru, menurut saya bukan tentang merasa paling tahu, justru menjadi tempat belajar dengan menemukan keadaan yang berbeda. Dan Pendidikan yang baik bukan hanya tentang banyak yang berhasil kita ajarkan, namun juga tentang seberapa jauh kita bersedia memahami sebelum meminta seseorang untuk berubah.