
Kamis (4/6/2026), Yayasan Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak Yogyakarta menjadi tuan rumah untuk acara Penguatan Direktorat Pesantren melalui Bedah Buku “KH. Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI”. Bedah buku biografi ulama NU yang ditulis oleh H. Abdul Mun’im DZ dan diterbitkan oleh UNWAHA Press ini dilaksanakan di Aula Asrama Panggung Yayasan Pondok Pesantren Ali Maksum. Acara yang berlangsung dari pukul 18.30 hingga pukul 23.00 ini dimulai dengan pembacaan Asmaul Husna khas Mbah Ali Maksum serta diiringi shalawat dari tim hadroh Nurussalam.
Acara dibuka dengan pembacaan lantunan ayat suci Al-Qur’an dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Hymne Pesantren, dan Ya Lal Wathon. Doa pembuka dipimpin oleh KH. Hasib Hasbullah (putra dari KH. Abdul Wahab Hasbullah). Sambutan pertama diawali oleh KH. Khoirul Fuad, M.S.I., selaku pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak. “Pak Basnang (Direktorat Pesantren) bagaikan ketua pesantren se-Indonesia. Sedangkan Prof. Nasaruddin Umar (Menag RI) adalah pengasuh pesantren se-Indonesia,” kata K.H Khoirul Fuad dalam sambutannya.
Ibu Nyai Hj. Hizbiyah Rochim Wahab selaku perwakilan dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras yang juga merupakan ketua PW Muslimat NU DKI Jakarta turut hadir dalam acara ini. “Dengan bedah buku ini, harapannya buku ini tidak sekadar menjadi bahab bacaan, tetapi dapat menjelma dan menjadi aksi nyata,” pesan beliau ketika memberikan sambutan.
Sebelum masuk pada sambutan ketiga, Ning Rhetno Arobiatul Jauzak, S.Keb. selaku MC memberikan sebuah penayangan video yang bertajuk “Bakti Santri untuk Negeri”. Dalam video tersebut disampaikan begitu banyak kiprah santri yang turut andil dalam membangun NKRI. Kiprah santri tersebut meliputi berbagai bidang, diantaranya adalah bidang kepenulisan, bidang penelitian, bidang TNI/Polri, bidang perfilman atau media, hingga bidang teknologi/robotika.
“Negara harus berterimakasih kepada pesantren karena negara memiliki tugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi tugas itu diambil alih oleh pesantren,” tutur Dr. H. Basnang Said, S.Ag., M.Ag. yang merupakan Direktorat Pesantren Kementrian Agama RI. “Begitu kita membicarakan pesantren, maka tidak sah jika kita tidak membicarakan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Begitu kita membicarakan Indonesia, maka tidak sah jika kita tidak menceritakan KH. Abdul Wahab Hasbullah yang menjadi tiga tangkai tuang,” lanjut beliau dalam mengenang jasa KH. Abdul Wahab Hasbullah. Video biografi singkat KH. Abdul Wahab Hasbullah juga ditayangkan dalam acara tersebut sebagai pembuka menuju acara inti.
Keynote Speaker disampaikan oleh Menteri Agama RI, yaitu Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. “KH. Abdul Wahab Hasbullah adalah tidak hanya sosok yang the best leader, tapi beliau juga the best managers,” ungkap beliau membuka pernyataan terkait pribadi KH. Abdul Wahab Hasbullah. Beliau juga menyampaikan tentang perkembangan pondok pesantren dan keunggulan pondok pesantren dibanding dengan sekolah regular. Beberapa kelebihan tersebut diantaranya adalah bahwa biaya di pondok pesantren lebih murah tetapi soal kualitas tidak kalah bersaing dengan sekolah-sekolah mahal. Beliau juga menyampaikan bahwa beberapa waktu yang lalu ada mahasiswa ITB yang menjadi lulusan terbaik. Dan hebatnya, mahasiswa tersebut adalah lulusan madrasah. Hal ini menekankan bahwa lulusan pondok pesantren memiliki keunggulan yang tidak main-main. Beliau juga menceritakan bahwa para Kyai tidak hanya dapat memahami hal-hal yang kasat mata, melainkan juga dapat mengerti hal-hal yang tidak terlihat. Hal ini disebabkan karena tingkat ilmu dan keimanan para Kyai sudah sangat tinggi, melebihi kita pada umumnya.


Acara inti bedah buku yang menghadirkan KH. Mun’im DZ (penulis), Ir. H. M. Romahurmuziy, M.T (Gus Romy–Keluarga KH. Abdul Wahab Hasbullah), dan KH. Ahmad Zuhdi Muhdlor (Ketua PWNU DIY) ini dipandu oleh Bapak M. Faliqul Isbah, G.D.Soc., M.A dari Universitas Gadjah Mada. “NU itu didirikan melalui riyadhoh sehingga masih bisa bertahan dan bertumbuh besar sampai sekarang. Bahkan beliau KH. Wahab Hasbullah meninggal justru di saat NU sedang Berjaya, tidak seperti pendiri-pendiri partai lainnya saat itu,” ungkap KH. Mun’im DZ yang merupakan penulis buku biografi KH. Wahab Hasbullah.
Zuhdi Muhdlor juga menyampaikan tentang kelebihan luar biasa dari KH. Abdul Wahab Hasbullah yaitu ngeden dan ngempet yang menjadi prinsip Mbah Wahab. “Beliau tahu kapan harus ngeden dan kapan harus ngempet,” tutur KH. Zuhdi Muhdlor mengenang sosok Mbah Wahab Hasbullah.
Pada sesi ini, Gus Romy yang merupakan cucu dari Mbah Abdul Wahab Hasbullah menyampaikan terimakasih kepada KH. Mun’im DZ karena telah menulis buku ini yang memiliki perbedaan dari tulisan lain. “Buku ini adalah buku ke-1 dari biografi Mbah Wahab. Beberapa hal tentang Mbah Wahab belum dituliskan di buku ini karena sengaja memancing dzurriyyah untuk melanjutkan buku ke-2, ke-3, dan seterusnya,” kata Gus Romy mengakhiri sesi bedah buku. Hal ini memiliki makna bahwa seorang muslim, selain memiliki iman yang kuat, juga memiliki karya yang menggetarkan. Semoga dengan adanya bedah buku ini mampu memberikan motivasi kepada kita, umat muslim untuk terus membudayakan literasi untuk membangun peradaban yang semakin baik.
Penulis : Wahyu Nugroho (10 B) & Iqbal Najihan (10 A)




