Search
Search
Close this search box.

Dari Arsip Jogja Kita Belajar Mengabadikan

Arina Amaly Hasna, S.Pd

 

Salah satu bentuk melawan lupa yaitu dengan mengarsipkan surat-surat yang kita miliki, baik itu berupa dokumen ataupun digital. Kurang lebih seperti itulah pemaknaan yang saya pahami dari perkataan seorang dokumentator partikuler, Muhidin M Dahlan dalam sebuah wawancaranya dengan seorang wartawan BBC.

Belum lama ini saya berkunjung ke sebuah tempat yang menghimpun Black Box atau kotak hitam, perjalanan panjang Yogyakarta dari era Kerajaan Mataram Islam, yaitu Panembahan Senopati sampai menjadi Daerah Istimewa hingga saat ini, masa Sri Sultan Hamengkubuwono ke-X. Di mana lagi kalau bukan di Diorama Arsip Jogja, wahana edukasi visual modern yang menampilkan arsip-arsip perjalanan sejarah Yogyakarta.

Dari Arsip Jogja kita dijelaskan bahwa arsip bukan hanya tumpukan kertas kusam yang memenuhi ruangan berdebu dan membosankan, tetapi arsip mampu mengantarkan kita untuk mengetahui suatu kejadian atau peristiwa yang tidak kita alami namun kita bisa ikut merasakan peristiwa yang dulu pernah terjadi.

Untuk menjaga sebuah arsip kita tidak harus menunggu untuk menjadi seorang pegawai kantor ataupun sejarawan. Kita bisa mulai dari hal-hal kecil yang ada di kehidupan kita, seperti: merapikan folder penting yang ada di laptop, menyimpan ijazah sekolah, akta kelahiran dan mencetak foto-foto kenangan yang penuh dengan momen berharga antara dirimu dengan keluarga, teman-teman seangkatan, atau keluarga kecilmu. Setiap manusia pasti mempunyai dokumen yang itu perlu untuk diarsipkan, agar selalu dijaga, dirawat, dan disimpan dengan baik sehingga bisa menjadi kenangan untuk diceritakan kembali masa-masa yang pernah dia alami baik kepada teman sebayanya ataupun kepada keturunannya.

Mengapa kita perlu belajar mengarsipkan, Bukannya arsip-arsip itu hanya akan memenuhi lemari dan belum tentu itu akan berguna di kemudian hari?

Sebagian dari kita mungkin belum merasakan apa manfaat dari mengarsipkan sebuah dokumen ataupun sebuah foto dan banyak juga yang tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal tersebut. Dengan mengarsipkan suatu dokumen ataupun foto itu artinya kita merawat dan mempunyai mesin waktu nyata yang kita miliki untuk melihat perjalanan panjang kehidupan yang pernah kita lalui. Perjalanan yang berdarah-darah, kegagalan demi kegagalan yang dilalui, sampai pencapaian-pencapaian yang pernah kita raih. Dengan melihat itu kembali tak jarang menjadi sebuah penyemangat bagi kita dalam menjalani kehidupan saat ini. Arsip yang kita abadikan kelak akan menjadi saksi bisu atas manis pahitnya perjalanan hidup kita sendiri.

Boleh jadi Arsip merupakan dokumen yang dianggap penting dan memiliki nilai guna dikemudian hari. Nilai guna arsip bisa digunakan sebagai alat bukti hukum, warisan budaya, warisan identitas, maupun catatan sejarah, baik untuk negara, organisasi, komunitas, maupun diri kita sendiri.

Arsip bukanlah sampah. Arsip adalah warisan, identitas sebuah bangsa yang dibekukan oleh waktu. Di era digital ini, untuk mengarsipkan sebuah dokumen atau foto kita tidak perlu mencetaknya lalu menyimpannya di dalam lemari atau mencetaknya lalu membingkainya untuk dijadikan pajangan di dinding-dinding rumah. Cukup menyimpannya di galeri Hp atau menyimpannya di Google Drive itu sudah bisa dikatakan sebagai sebuah arsip. Jadi, apa yang sudah kamu arsipkan hari ini?