Dwi Wulandari, S.Pd
Era disrupsi merupakan era terjadinya perubahan secara besar-besaran akibat adanya inovasi (Saragih, 2023). Perubahan tersebut terjadi diberbagai bidang kehidupan masyarakat, yakni dalam bidang pendidikan, sosial, budaya, dan moral. Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat bagi masyarakat seperti mempermudah segala akses informasi maupun mengembangkan kreativitas. Tetapi dibalik kemudahan yang serba instan tersebut, era disrupsi juga mempunyai tantangan moral yang tidak boleh diabaikan. Permasalahannya seperti penyebaran berita bohong, perundungan, menurunnya sikap sopan santun, serta individualisme.
Pendidikan karakter memiliki peranan penting dalam mengatasi permasalahan tersebut serta membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral, etika, dan kepribadian yang baik. Nilai-nilai karakter meliputi kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, kepedulian, kerja keras, serta rasa hormat terhadap orang lain. Pendidikan karakter menjadi landasan bagi seseorang untuk membedakan perilaku yang benar dan salah serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab. Maka dari itu, pendidikan karakter perlu diterapkan secara konsisten dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat agar generasi muda mampu menghadapi tantangan moral di era disrupsi.
Salah satu tantangan moral yang muncul di era disrupsi adalah kemudahan dalam mengakses dan menyebarkan informasi melalui internet maupun media sosial. Banyak orang membagikan informasi tanpa memeriksa kebenarannya sehingga menyebabkan kebencian dan kesalahpahaman di masyarakat. Situasi ini menunjukkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran moral dengan memperlakukan orang lain dengan baik.
Pendidikan karakter berperan dalam membangun etika dan sopan santun di tengah perubahan pola interaksi sosial di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Komunikasi saat ini dilakukan melalui pesan singkat dan media sosial sehingga sebagian orang kurang memperhatikan cara menyampaikan pendapat dengan baik. Sikap saling menghormati tetap diperlukan, baik dalam komunikasi secara langsung maupun secara digital. Oleh sebab itu, nilai kesantunan, toleransi, dan empati harus ditanamkan sejak dini agar seseorang mampu menghargai orang lain tanpa memandang latar belakang, agama, suku, maupun perbedaan pandangan. Mirisnya generasi z maupun alpha kurang memiliki karakter yang baik.
Penerapan pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk mengenal nilai moral dan membentuk kebiasaan. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan teladan dalam bersikap jujur, disiplin, menghormati orang lain, memiliki empati dan simpati, serta memiliki sopan santun kepada orang lain.
Selain keluarga, sekolah juga memiliki peran strategis dalam memperkuat pendidikan karakter. Sekolah tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan akademik, tetapi juga membentuk peserta didik agar memiliki kepribadian yang baik. Guru dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam proses pembelajaran, membiasakan siswa untuk bekerja sama, menghargai pendapat teman, bersikap jujur ketika mengerjakan tugas, dan bertanggung jawab terhadap kewajibannya. Kegiatan seperti kerja kelompok, diskusi, kegiatan sosial, serta pembiasaan disiplin dapat menjadi sarana untuk mengembangkan karakter peserta didik. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi juga bagian dari budaya sekolah.
Mirisnya anak-anak sekarang kurang memiliki karakter yang baik. Terkadang berbicara kasar dengan guru atau hal yang sederhana tidak menyapa guru ketika berpapasan di jalan. Terkadang perilaku bullying kepada sesama teman juga menjadi perhatian khusus. Perlu kalian ingat, pintar saja tidak cukup. Rangking satu di kelas tidak akan banyak berarti jika kalian tidak memiliki akhlak dan sopan santun yang baik. Mengapa demikian? Karena sopan santun adalah cerminan dari kepribadian kita yang sebenarnya.
Saat ini, kita berada di lingkungan sekolah. Menjaga sopan santun di sekolah tidaklah sulit. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil yang sering disebut dengan Budaya 5S, yaitu:
- Senyum: Berikan senyuman yang ramah saat berpapasan dengan orang lain.
- Salam: Ucapkan salam ketika bertemu guru, staf sekolah, maupun sesama teman.
- Sapa: Menyapa dengan panggilan yang baik dan sopan.
- Sopan: Berperilaku yang baik, menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda.
- Santun: Berbicara dengan bahasa yang halus, tidak berteriak, dan tidak menggunakan kata-kata kasar.
Selain 5S, ingatlah juga tiga kata ajaib yang harus selalu kita biasakan: katakan “tolong” saat butuh bantuan, ucapkan “maaf” jika melakukan kesalahan, dan sampaikan “terima kasih” setelah menerima bantuan atau kebaikan dari orang lain.
Di samping itu, masyarakat dan pemerintah perlu mendukung pelaksanaan pendidikan karakter. Masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang positif dengan membangun budaya saling menghormati, meningkatkan kepedulian sosial, dan memberikan contoh perilaku yang baik. Tapi sayangnya banyak sekali kasus keji diluar sana dimulai kasus pembunuhan dengan mutilasi ataupun kasus korupsi dana kemanusiaan. Sering kali kasus tersebut dimulai dari seseorang yang tidak memiliki karakter empati kepada orang lain.
Oleh karena itu, pendidikan karakter harus diterapkan secara berkelanjutan melalui peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, toleransi, empati, dan sikap kritis perlu ditanamkan melalui pembiasaan serta keteladanan nyata. Dengan pendidikan karakter yang baik, generasi muda diharapkan mampu menggunakan teknologi secara bijaksana, menjaga etika, dan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah perubahan zaman. Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi era disrupsi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas moral dan karakter manusia yang menggunakannya.





