Ketika tugas, tuntutan kehidupan, notifikasi, dan media sosial datang bersamaan, manusia butuh ruang untuk berhenti dan memulihkan diri.
Barirotul ‘Aizza Salsabila, S.Sos
Di tengah produktivitas yang dijalani, kapan terakhir kali kita bertanya “Am I Okay?”
Pagi hingga siang diisi dengan pekerjaan dan berbagai tuntutan. Sore masih ada tanggungjawab lain yang harus diselesaikan. Malam yang harusnya menjadi waktu istirahat, tetapi masih sibuk memikirkan pekerjaan esok hari.
Hari berikutnya, siklus yang sama terjadi kembali.
Kita hidup di dunia yang menuntut manusia untuk selalu bergerak. Harus produktif. Harus berkembang. Harus mencapai target. Harus balas pesan. Harus rajin. Harus tepat waktu. Harus bekerja keras. Bahkan ketika tubuh sudah meminta untuk berhenti, tapi masih saja ada dorongan hati nurani untuk berkata;
“Sedikit lagi. Setelah ini selesai, baru saya istirahat”
Masalahnya adalah, “Setelah ini” tidak benar-benar pernah datang.
Dan ketika kelelahan itu berlangsung secara terus menerus dan tidak ada pemulihan, maka yang ada bukan hanya tentang kelelahan, bisa jadi kita sedang menuju pada gejala kelelahan atau dalam ilmu psikologi diberi nama Burnout.
Tetapi burnout bukan hanya tentang kelelahan.
Merasa lelah selama beraktifitas seharian belum tentu bisa dikatakan sebagai burnout. Begitupun kehilangan satu atau dua motivasi tidak serta merta bisa dikatakan sebagai kondisi tersebut. Perlu diperhatikan pola yang belangsung, konteks, dan sejauh mana kondisi tersebut mempengaruhi kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang sering terjadi adalah ketika kelelahan dianggap menjadi suatu keberhasilan.
“Kalau belum capek, berarti belum bekerja keras”
“Kalau masih ada waktu luang, berarti belum bisa dikatakan sebagai manusia produktif”
“Tugasnya diselesain dulu, tidurnya nanti setelah tugas ini selesai”
Kalimat-kalimat seperti ini mungkin bisa terdengar seperti motivasi. Namun, jika terbiasa seperti itu dan menjadi pola hidup, maka manusia akan kesulitan dalam mengenali batas dirinya lagi.
Hingga pada akhirnya, istirahat dianggap sebagai suatu kemewahan.
Tapi nyatanya, istirahat justru merupakan bagian dari kemampuan manusia supaya tetap berfungsi dengan baik.
Tubuh butuh istirahat. Pikiran juga.
Selama ini kita mengenal time management atau manajemen waktu.
Namun, ada hal lain yang tak kalah penting, yakni energy management.
Kapan kita paling mudah berkonsentrasi?
Kapan tubuh mulai lelah?
Kapan kita membutuhkan istirahat?
Aktivitas apa yang membuat kita kembali bersemangat?
Pertanyaan tersebut membantu manusia untuk membuat pola dirinya sendiri.
Bekerja tidak harus selalu dilakukan secara terus menerus, belajar tidak harus dilakukan dalam waktu yang panjang. Kegiatan apapun ada durasinya tersendiri. Apabila diatur dengan jeda yang cukup, hal tersebut bisa membantu manusia untuk menjaga konsentrasi.
Begitu pula dengan tidur, aktivitas fisik, interaksi sosial, dan waktu tanpa layar. Semua memiliki peran dalam menjaga keseimbangan aktivitas kita sehari-hari.
Jangan menunggu sampai benar-benar habis.
Istirahat bukan tanda menyerah.
Berhenti sebentar bukan berarti menghentikan ambisi.
Meminta bantuan bukan berarti tidak mampu.
Jika tekanan hidup dinilai terasa berat, berbicaralah dengan teman. Ceritakanlah dengan orang yang bisa dipercaya. Dukungan dapat membantu manusia untuk melihat suatu masalah dari sudut pandang yang lebih luas.
Di era modern yang banyak sekali menampilkan orang-orang yang terlihat produktif, berprestasi, dan selalu memiliki kegiatan. Dan manusia merasa bahwa dirinya juga harus terus melakukan sesuatu. Padahal, kehidupan manusia tidak berjalan dalam mode produktif sepanjang waktu.
Ada saat untuk bekerja.
Ada saat untuk berjuang.
Ada saat untuk gagal.
Dan ada saat untuk beristirahat.
Menjadi manusia yang sehat bukan berarti selalu mendapatkan nilai yang sempurna. Yang lebih penting adalah mampu mengenali batas diri, bertanggungjawab terhadap kewajiban, dan tahu kapan membutuhkan dukungan.





